Jumat, 28 September 2007

Buku Tentang Sistem Informasi Geografis Menggunakan MapInfo


MapInfo adalah software pengolah data spasial dan sistem informasi geografis. Software ini memiliki kemampuan pemetaan digital dan analisis-analisis yang diperlukan dalam sistem informasi geografis. Pada saat ini banyak institusi dan instansi yang mendasarkan berbagai kebijakannya pada analisis kewilayahan atau analisis geografis. Institusi dan instansi tersebut datang dari kalangan pemerintah ataupun akademisi baik swasta atau negeri.

Sistem informasi geografis menjadi salah satu alat vital dalam pengambilan keputusan oleh beberapa instansi pemerintah. Sebagai contoh, Dinas Pajak Bumi dan Bangunan di seluruh Indonesia menggunakan MapInfo sebagai standar baku software pengolah data digital dan sistem informasi geografis. Bappeda di seluruh Indonesia juga telah menggunakan MapInfo sebagai software pendamping ArcView dan ArcInfo. Dinas lain yang menggunakan software ini adalah Dinas Perikanan dan Kelautan, Pemda di seluruh Indonesia, Departemen Kehutanan, dan Departemen Pertanian.

Dari kalangan akademis, potensi banyak terbuka sejalan dengan telah diterapkannya mata kuliah Sistem Informasi Geografis di berbagai jurusan seperti Teknik Geodesi, Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Perminyakan, Teknik Mineral, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Geografi, Penginderaan Jauh, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Kelautan, dan lain-lain.

Tenaga operator dari berbagai kalangan tersebut masih sangat membutuhkan buku pegangan atau referensi dalam hal pemakaian dan operasi software. Tenaga operator dan mahasiswa pada saat ini masih kesulitan memperoleh buku referensi mengenai MapInfo karena belum ada buku tersebut di pasaran. Buku ini hadir untuk menjawab kesulitan mereka!

XML Dalam Sistem Informasi Geografis


Kita telah mengenal berbagai format proprietary dari aplikasi-aplikasi SIG yang berbeda-beda, baik dari segi vendor-nya maupun perbedaan versi dari tiap format. Lumrah saja, karena tiap vendor menginginkan format yang efisien dan sesuai dengan aplikasi yang mereka buat. Terdapat fungsi dan aplikasi untuk korvesi antar format, tapi tidak selalu memadai karena ada keunikan dari tiap format yang belum tentu dapat dikonversi ke format lain.

Hal ini juga menjadi hambatan untuk webmapping , karena setiap aplikasi akan memerlukan client environment yang berbeda-beda pula. Tidak semua orang bersedia menginstall software tersendiri (applet khusus, plug-ins tertentu dll) bagi tiap aplikasi webmap yang ingin mereka lihat.

Karena perbedaan format menghambat pemanfaatan data geografis secara lebih luas, diperlukan cara pertukaran data yang dapat dipahami secara global. Fungsi ini dapat dipenuhi oleh XML (eXtensible Markup Language).

eXtensible Markup Language

XML adalah bahasa markup yang menyediakan sintaks yang lentur (dapat dikembangkan sesuai kebutuhan) dan independen (tidak tergantung sistem platform). Jadi sesuai untuk sarana pertukaran data antar berbagai ragam sistem, baik lewat internet atau jalur lain [1].

Format ini merupakan rekomendasi dari World Wide Web Consortium. XML memungkinkan untuk memuat baik data koordinat, data penyerta dan instruksi yang menyatakan jenis perlakuan terhadap data tersebut. Perlakuan itu dapat berupa transformasi data ke bentuk lain ataupun untuk menyatakan bagaimana data ditampilkan.

Penggunaan XML memungkinkan penerapan internet SIG dalam bentuk yang lebih terbuka, murah dan beragam tapi tetap kompatibel. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh beberapa subset/turunan dari XML, yaitu SVG, XSL dan GML. Dunia XML memang penuh dengan akronim tiga huruf yang kadang membingungkan, untuk itu masing-masing akan coba dipaparkan secara singkat.

Scalable Vector Graphics

Untuk keperluan SIG, tentunya diperlukan format untuk tampilan data spasial. Karena XML bersifat general, maka untuk keperluan grafis diperkenalkan suatu subset XML yaitu SVG (Scalable Vector Graphics), suatu standar terbuka untuk grafik 2D yang merupakan rekomendasi dari W3C [2].


Penggunaan SVG dalam SIG telah memberikan dampak terutama terhadap aplikasi webmap. Contoh tampilan webmap interaktif yang menggunakan SVG sudah cukup banyak saat ini, seperti gambar di kiri.

SVG memungkinkan penggunaan vektor yang memberikan banyak keunggulan dibanding format raster yang selama ini kita kenal. SVG juga dilengkapi dengan SVG DOM (Document Object Model) untuk membuat peta yang interaktif. Terdapat juga spesifikasi untuk mobile devices (SVG tiny) [2] dan browser phones (pSVG) [8,9]. SVG juga dapat dikompresi sehingga menurunkan ukuran transfer secara signifikan.

Dengan kemampuan SVG untuk memuat data vektor, bitmap dan teks, orang akan menganggap hanya dengan SVG sudah cukup. Dan memang saat ini sudah banyak contoh webmap yang menggunakan SVG, baik untuk tampilan dan data penyertanya [7].

Walau demikian, ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam spesifikasi SVG. Misalnya mengenai standar link feature terhadap data, sistem referensi spasial yang digunakan, feature buffer atau standar skema data spasial.
Memang sengaja tidak dicakup karena SVG adalah suatu format grafis umum yang tidak hanya digunakan untuk aplikasi SIG, sehingga pertukaran data secara terbuka akan rumit jika hanya mengandalkan SVG. Untuk itu diperlukan subset XML lain, yaitu GML.

Geographic Markup Language

GML adalah suatu subset XML untuk transformasi dan penyimpanan informasi geografis, baik data spatial ataupun non spatial dari suatu obyek geografis. GML adalah spesifikasi dari OpenGIS Consortium.


GML menyediakan framework yang terbuka dan independen untuk mendefinisikan obyek dan skema dari suatu aplikasi SIG. Hal ini meningkatkan kemampuan untuk berbagi skema dan informasi geografis [5]. Format ini juga berperan penting dalam implementasi Web Feature Server (WFS).

WFS adalah suatu modul yang mengimplementasikan interface standar untuk operasi data spasial yang berada dalam suatu datastore [5]. Datastore tersebut dapat berupa general SQL database, flat XML file, spasial database, proprietary format dll, dan manipulasi terhadap datanya dapat dilakukan melalui Web. HTTP server adalah server yang dapat melayani HTTP request. Aplikasi klien adalah aplikasi yang berkomunikasi dengan web server menggunakan HTTP, misalnya suatu browser.

Standar yang interoperable mempermudah klien dalam menggunakan web sebagai sarana mengakses data geografis dan servis geografis lainnya. Tentu saja, GML hanya mengatur mengenai skema dan penulisan data spasial, sedangkan untuk menampilkannya dapat menggunakan SVG.

Extensible Stylesheet Language

XSL merupakan subset dari XML yang direkomendasikan W3C untuk mendefinisikan stylesheets [3]. Suatu dokumen XML dengan struktur tertentu dapat diproses oleh suatu XSL stylesheet menjadi bentuk lain yang diinginkan. Karena XSL adalah bahasa prosedural, XSL hanya berfungsi jika diterjemahkan menggunakan XSL Transformation (XSLT) [4].

XSL dipergunakan untuk mentransformasikan data (GML) menjadi tampilan grafis di klien (SVG). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosesor untuk XSLT seperti Xalan atau Saxon. Di server hal ini dapat dilakukan secara otomatis untuk menghasilkan SVG. Sedangkan di sisi klien hal ini - paling tidak saat ini - masih harus dilakukan secara manual, karena browser belum memberikan keleluasaan untuk itu.

Cara lain untuk mengubah GML menjadi SVG, adalah dengan langsung mengakses Document Object Model, baik di server ataupun di klien. Di server, dapat dilakukan dengan menggunakan servlet, atau server scripts, atau aplikasi lain yang mampu mengakses DOM dari suatu dokumen XML. Di sisi klien, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan EcmaScript.

Peta dengan XML

Jika melihat format XML yang berupa tag-tag dalam bentuk teks, akan sulit membayangkan membuat aplikasi SIG berdasarkan XML. Tapi XML bukanlah bahasa pemrograman, melainkan data yang diproses oleh User Agent (aplikasi di server, browser dll) dengan instruksi tertentu.

Jika kita sudah memiliki data GML (baik berupa file yang dihasilkan suatu aplikasi atau stream dari web), data tersebut harus diolah lebih lanjut agar dapat ditampilkan. Dalam GML dimungkinkan untuk merujuk pada suatu skema data sehingga pemrosesan GML dilakukan berdasarkan skema tersebut.
GML kemudian dapat ditransformasikan menggunakan XSL-XSLT, yang dapat dilakukan baik di server (misalnya Cocoon) atau secara lokal (misalnya menggunakan Saxon, atau parsing menggunakan clientside script). Di masa datang diharapkan XSL dapat dilaksanakan langsung di browser.

Setelah melalui proses transformasi, file GML akan menjadi SVG yang dapat dilihat menggunakan browser. (contoh file GML, XSL dan SVG dapat dilihat di bagian akhir). Saat ini, SVG di browser masih memerlukan plug-ins, karena SVG masih merupakan format yang baru, sehingga membutuhkan waktu bagi pembuat browser untuk mengadopsi-nya. Kecuali anda menggunakan browser khusus SVG seperti Amaya atau Batik.

Proses tersebut, mulai dari data, proses dan output semuanya berupa dokumen XML. Hal lainnya adalah proses ini dapat dilakukan menggunakan software-software opensource.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung menghasilkan SVG dari database atau aplikasi lainnya? Mengapa harus melalui GML?[18] Ilustrasi berikut mengenai Web Feature Server mungkin dapat membantu.

Penggunaan format XML (dalam hal ini GML) sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan, terutama untuk penerapan Web Feature Server[14].

Dari binary ke teks

Sampai di sini mungkin masih ada yang mengganjal. Bagaimana mengubah data-data SIG yang sudah ada dan umumnya dalam bentuk binary ke XML? Hal ini masih harus dilakukan karena saat ini data-data SIG umumnya adalah dalam format proprietary (shapefile/dbf, mif/mid dll) yang berupa binary.

Beberapa cara yang dilakukan antara lain :

  • Dapat menggunakan bahasa pemrograman/script yang terdapat pada aplikasi SIG untuk mengambil data-data dan menghasilkan format XML (misalnya avenue pada ArcView 3.x, VB pada ArcGIS, atau mapBasic pada MapIfo).
  • Memasukkan data SIG dalam database, dan membuat file XML baik dengan fungsi yang ada pada database atau dengan bantuan aplikasi lain (PHP, perl, JSP, XSQL, XSL dll) [10].
  • Jika tidak memiliki software SIG, dapat membuat sendiri program yang membaca format binary, kemudian dieksport ke XML atau database. Ada juga aplikasi opensource maupun komersial yang dapat melakukan hal ini untuk beberapa format binary SIG [13].
  • Menggunakan aplikasi yang berjalan di server untuk membaca format binary dan langsung di-stream melalui web dalam bentuk GML.

Di masa datang hal ini akan lebih mudah, karena vendor applikasi SIG akan mengadopsi format XML atau turunannya baik untuk proses import atau export. Selain itu perkembangan teknologi GPS memungkinkan untuk langsung memproses data koordinat [11].

XML bukan hanya sekedar suatu format data, dan memang tidak didesain sebagai format penyimpanan semata. Data-data aplikasi SIG besar kemungkinan akan tetap menggunakan format proprietary, karena masing-masing vendor aplikasi SIG mempunyai pertimbangannya masing-masing (efisiensi, investasi yang ditanam dalam format tsb, proteksi dll). XML lebih berguna sebagai sarana pertukaran baik offline atau online.

Untuk database, perlu dipertimbangkan bahwa data XML bersifat hirarkis, sedangkan database relational. Selain itu database saat ini sudah ada yang memiliki kemampuan spasial. Jadi penyimpanan di database akan lebih memadai, dan struktur database-nya terserah kepada masing-masing pihak. Hasil query dapat disusun dan dikirim kepada klien dalam format XML tertentu yang sesuai [10].

Keuntungan penggunaan XML dalam SIG

Dengan segala kerepotan ini, keuntungan apa yang dapat diambil? Banyak sekali.

  • Format yang berupa standar terbuka.
  • Peta berbasiskan vektor dengan kualitas grafis yang baik.
  • Fasilitas DOM untuk modifikasi dokumen dan interaksi dengan pengguna.
  • Lebih hemat bandwith.
  • Extensible dengan berbagai teknologi di server (servlets, JSP, ASP, PHP, Pearl dll).
  • Konfigurasi sistem klien yang generik dan fleksibel.
  • Penerapan konsep pemisahan isi dari style, berarti memudahkan manajemen data.
  • Implementasi SIG yang tidak memerlukan biaya besar, lebih terjangkau oleh semua pihak.
  • Klien yang berdasarkan pada interface standar memungkinkan koneksi ke berbagai server, database, web service dll.
  • Memungkinkan adanya desentralisasi data geografis dengan pendekatan bottom up [6].
  • Data yang terdistribusi di berbagai tempat dapat diekstrak kemudian diintegrasikan secara mudah, selama tetap menggunakan format pertukaran standar.
  • Membuka peluang bagi terciptanya Sistem Informasi Kolaboratif [12].
  • Integrasi dengan non-GIS software, karena XML merambah ke semua bidang. Basis pengguna SIG bertambah luas.
  • Interaksi SIG dengan bidang lain secara lebih luas, dan penggunaan SIG untuk bidang yang selama ini belum terjamah SIG.

Beberapa keuntungan diatas memang dapat tercapai jika penggunaan XML telah diadopsi secara luas, yang diyakini hanya masalah waktu saja.

Hambatan

- Penggunaan XML belum mencapai tahap massal.
- SVG masih belum disupport secara native di beberapa browser, jadi saat ini masih memerlukan plugins.
Hal diatas memang wajar terjadi karena ada rentang waktu yang diperlukan dalam setiap pengadopsian teknologi baru.
- Masalah HAKI, tidak semua data disediakan untuk publik.
- Masalah organisasi dari institusi/badan/perusahaan untuk berkolaborasi bersama-sama.
- Kesenjangan teknologi informasi yang kita alami di Indonesia (istilah gagahnya adalah digital divide), baik di tingkat bawah, menengah dan atas.

Penutup

Seperti juga pada bidang lain, XML akan membawa SIG kepada penerapan standar terbuka yang memudahkan akses dan pertukaran data geografis. Hal ini memungkinkan terciptanya kerjasama yang lebih terintegrasi antara pihak-pihak yang langsung terkait dengan SIG, juga dengan pihak lain yang selama ini belum memanfaatkan dan dimanfaatkan untuk SIG.
Sisi lain adalah penerapan yang mudah dan murah akan bermanfaat terutama bagi yang memiliki sumberdaya terbatas. Bertambahnya pengguna SIG akan mendorong pengembangan SIG dari bawah, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey SIG[17].



Sistem Informasi Geografis Manajemen Data Potensi Migas


Minyak dan gas (MIGAS) merupakan salah satu sumberdaya alam yang tidak terbarukan (non-renewable), terperangkap dalam batuan reservoar dan terbentuk melalui proses geologi. Kegiatan usaha bidang migas sendiri merupakan investasi yang mahal dan beresiko tinggi. Untuk mengurangi resiko tersebut maka dalam kegiatan eksplorasi migas perlu dilakukan sejumlah tahapan kegiatan dengan berbagai metode dan teknologi, mulai dari yang paling dasar dan murah hingga mahal supaya dapat memilah daerah yang masih potensial dan layak dikembangkan lebih lanjut.

Investasi dalam kegiatan MIGAS akan berakibat pada penambahan volume dan jenis data, maka diperlukan sistem pengelola data yang terintegrasi. Integrasi data cadangan migas yang baik akan menimbulkan efisiensi baik dari segi biaya ataupun waktu. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan alat Bantu berfungsi untuk meningkatkan optimalisasi data yang berkaitan dengan spasial atau koordinat geografis baik secara manual atau otomatis dengan komputer (digital).

Informasi manajemen data potensi migas berbasis SIG akan membantu pemerintah dalam pengambilan keputusan kebijakan bidang migas dan juga akan sangat membantu masyarakat dan investor bidang industri migas beserta pendukungnya dalam menentukan. Hasil SIG yang komunikatif, informatif dan atraktif akan lebih bermanfaat dan mampu sebagai dasar semua pihak mempercepat pelaksanaan tugasnya.


Kegiatan termaksud mengelola data untuk menghasilkan ;

  • Data migas yang terintegrasi
  • Manajemen data lapangan migas yang komprehensif
  • Optimalisasi data tiap lapangan migas
  • Efisiensi biaya dan waktu dalam perolehan informasi.

Dengan hasil ini diharapkan akan dapat membantu pengambil keputusan dan pembuat kebijakan dalam mengambil keputusan-keputusan di sektor migas, juga akan memudahkan dan membantu investor dalam investasinya.

Secara umum ruang lingkup dalam riset ini dilakukan pegumpulan data sekunder serta penggunaan teknologi Sistem Informasi untuk penyusunan Sistem Informasi GeografisManajemen Data Migas Sumatera Tengah. Teknologi SIG digunakan untuk menjelaskan dan memaparkan aspek-aspek yang terkait secara langsung dengan kegiatan eksplorasi dan produksi migas, identifikasi data terkait data dasar kegiatan hulu migas.

Metoda yang dipakai dalam kegiatan ini menggunakan anlisis data sekunder Hasil Laporan Kegiatan Penemuan Cadangan MIGAS T.A. 2002 dan 2003. Garis besar pelaksanaan pekerjaan seperti dalam bagan alir (lihat GambarBagan alir).

Berdasarkan data dan informasi yang ada dilakukan inventarisasi dan identifikasi. Pada tahap pemrosesan data (rektifikasi dan digitasi) pemasukan data spasial dan data tabular semua coverage belum diorganisasikan. Setelah semua informasi data spasial dilengkapi dengan data tabularnya, maka semua data coverage diorganisasikan secara tematik sebagai rangkaian layer serta diorganisasi secara spasial dengan lembar peta. Setiap layer tematik ini diberi koordinat UTM ( Universal Transverse Mercator). Sistem koordinat ini memberikan proyeksi lokasi yang berguna untuk memastikan hubungan yang diketahui diantara lokasi pada peta dengan lokasi sebenarnya di bumi.

Proses lain dalam pengelolaan database adalah penggabungan peta yang bersebelahan, proses ini berguna untuk memperkecil volume space atau ruang yang dipakai oleh coverage dan memberikan informasi yang lebih terintegrasi.


Pengembangan Basis Data Spasial

Guna menyusun SIG Manajemen Data Migas diperlukan suatu sistem yang dapat menyimpan dan menampilkan data hasil pemetaan berupa informasi lahan dan keterangannya. Informasi lahan sangat penting dalam rencana pengelolaan kawasan serta dapat memberikan penjelasan kepada pengguna tentang apa yang harus dilakukan terhadap lahan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu.

SIG merupakan salah satu bentuk dari teknologi informasi yang ada sekarang ini digunakan untuk optimalisasi data potensi migas Sumatera Tengah, yang diperoleh oleh banyak pihak dengan berbagai tujuan yang berbeda. Kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk menyusun basis data dan mengintegrasikan data spasial dengan data atributnya, sehingga sistemnya dapat menjawab baik pertanyaan spasial maupun non spasial.

  • Tahap strategi dan perencanaan sistem, menggunakan pendekatan soft-system development dan structured system de-velopment dengan penekanan padaidentifikasi masalah (sistem) danperencanaan sistem.
  • Tahap analisis sistem, menggunakan pendekatan structured system development dengan melakukan analisis kebutuhan informasi yang akan menjadi prasyarat basis data yang akan dibangun dan analisis fungsional dari sistem yang akan dilakukan otomatisasi

Penyimpanan Data File

Pada tahapan perencanaan sistem yang dilakukan disusun data file atau struktur file berdasarkan direktori, sub direktori, dan layer/file. File direktori disusun berdasarkan pengelompokan sesuai kebutuhan antara lain untuk Manajemen Data Potensi Migas Sumatera Tengah. Direktori tersebut yaitu:, blok, lapangan migas, data bawah permukaan, dan data pendukung lain (sejarah lapangan, produksi dancadangan). Masing-masing direktori dibagimenjadi sub-direktori, yaitu : raster, dan gridding.

  • Raster :Kelompok file dari data peta geologi dan peta regional Pulau Sumatera
  • Gridding :Sistem grid yang digunakan(sistem grid UTM)
  • Infrastruktur :Kelompok infrastruktur, batas blok migas.
  • Lapangan Migas :Kelompok file minyak dan gas bumi, seperti sumur, lapangan minyak bumi gas bumi.
  • Data bawah permukaan :Kelompok file dari kontur struktur, isopach, data log.
  • Lain-lain :
    • Kelompok file data yang tidak termasuk file tersebut di atas, ataupun menyangkut lebih dari satu direktori, seperti wilayah administrasi (kota provinsi dan kabupaten,kota sebagai pusat kegiatan migas).

      Pada gambar berikut ditunjukkan hasil penyusunan data file dalam bentuk hasil cetak ( print out) tampilan web.



Kesimpulan

Fungsi manajemen yang terkait dengan manajemen data migas, khususnya terkait dengan Penemuan Cadangan Blok CPP dan Blok Rokan Tahap I (Sumatera Tengah) dikelompokkan menjadi 7P, sebagai berikut :

  • Perencanaan ( Planning)
  • Pengorganisasian ( Organising)
  • Penyimpanan ( Saving)
  • Pengendalian dan Pengawasan ( Control-ling)
  • Pengkomunikasian ( Communicating)
  • Pemantauan ( Monitoring)
  • Pengintegrasian ( Integrating)
Hasil inventarisasi antara lain mengumpulkan data lapangan minyak maupun lapangan gas yang berada di daerah Blok CPP Cekungan Sumatera Tengah. Dari hasil pengumpulan data tersebut terdapat 27 lapangan minyak dan 2 lapangan gas. Sementara dari laporan Blok Rokan Tahap I diidentifikasi 50 lapangan.

Dalam kaitan dengan pengusahaan lapangan dikelompokkan menjadi data per lapangan. Kelompok data dari satu lapangan (field) disatukan dalam satu lapis data (layer) sehingga memudahkan dijadikan bahan informasi. Dalam manajemen database dipilih perangkat lunak (software) MapInfo, menggunakan tampilan data dalam format HTML (Hy per Text Markup Language).

File direktori disusun berdasarkan pengelompokan untuk penghitungan strategi pengembangan migas. Direktori tersebut yaitu:infrastruktur, fasilitas migas, ruang, dan lain-lain.

Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh


Bidang Pengembangan Pemanfaatan Penginderaan Jauh mempunyai tugas melaksanakan pengembangan model dan metode pemanfaatan data penginderaan jauh.

Dalam melaksanakan tugasnya, Bidang Pengembangan Pemanfaatan Penginderaan Jauh menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan program kegiatan bidang pengembangan pemanfaatan penginderaan Jauh;
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan model aplikasi data satelit optis resolusi tinggi dan sangat tinggi serta Sistem Informasi Geografis (SIG);
c. pelaksanaan penelitian dan pengembangan model aplikasi data satelit radar;
d. pelaksanaan penelitian dan pengembangan model aplikasi lingkungan data satelit lingkungan dan cuaca;
e. pelaksanaan pelayanan pengolahan data penginderaan jauh;
f. pelaksanaan diseminasi informasi hasil-hasil kegiatan penelitian data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG);
g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala pusat pengembangan pemanfaatan dan teknologi penginderaan jauh;
h. evaluasi dan penyusunan laporan hasil pelaksanaan kegiatan penelitian pengembangan pemanfaatan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG);


Bidang Pengembangan Pemanfaatan Penginderaan Jauh terdiri dari :

a. Kelompok Peneliti, Analis Pengembangan Model Aplikasi Darat dan Pesisir menggunakan Data Satelit Optis Resolusi Tinggi dan Sistem Informasi Geografis SIG;
b. Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analis Pengembangan Model Aplikasi Data dan Satelit Radar;
c. Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Lingkungan dan Cuaca.

A. Kelompok Peneliti, Analis Pengembangan Model Aplikasi Darat dan Pesisir menggunakan Data Satelit Optis Resolusi Tinggi dan Sistem Informasi Geografis (SIG)

Kelompok Peneliti, Analis Pengembangan Model Aplikasi Darat dan Pesisir menggunakan Data Satelit Optis Resolusi Tinggi dan Sistem Informasi Geografis (SIG) mempunyai tugas melaksanakan pengembangan model aplikasi darat dan pesisir dengan menggunakan data satelit optis resolusi tinggi serta Sistem Informasi Geografis (SIG).

Dalam melaksanakan tugasnya, Kelompok Peneliti, Analis Pengembangan Model Aplikasi Darat dan Pesisir menggunakan Data Satelit Optis Resolusi Tinggi dan Sistem Informasi Geografis (SIG) melakukan :
a. penyiapan kegiatan penelitian, perekayasa dan analisis pengembangan model aplikasi darat data satelit optis resolusi tinggi dan Sistem Informasi Geografis (SIG);
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan metodologi pengolahan dan analisis data untuk ekstrasi informasi dalam perolehan model aplikasi data penginderaan jauh untuk bidang pertanian dan kehutanan;
c. pelaksanaan pengujian dan validasi model-model yang diperoleh dengan dukungan data lapangan dan data sekunder;
d. pelaksanaan operasional aplikasi data inderaja untuk sektor pertanian dan kehutanan;
e. pelaksanaan kerjasama riset dan pengembangan operasional pemanfaatan data penginderaan jauh bidang pertanian dan kehutanan dengan instansi / unit kerja lain yang terkait;
f. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh;
g. evaluasi dan penyusunan laporan hasil pelaksanaan kegiatan Kelompok Peneliti, Perekayasan dan Analisis Pengembangan Model Aplikasi Darat dan Data Satelit Optis Resolusi Tinggi dan Sistem Informasi Geografis (SIG).

B. Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Radar

Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analisis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Radar mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan model aplikasi laut dan data satelit radar.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analisis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Radar melakukan :
a. penyiapan kegiatan penelitian, perekayasa dan analis pengembangan model aplikasi data satelit radar untuk aplikasi pengembangan wilayah dan tata guna tanah;
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan metodologi pengolahan dan analisis data untuk ekstrasi informasi penginderaan jauh untuk bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, geologi pertambangan, kawasan pesisir, pengembangan wilayah / urban;
c. pelaksanaan pengujian dan validasi model-model yang diperoleh dengan dukungan data lapangan dan data sekunder;
d. pelaksanaan operasional aplikasi data inderaja untuk pengembangan wilayah dan tata guna tanah;
e. pelaksanaan kerjasama penelitian dan pengembangan operasional pemanfaatan data penginderaan jauh bidang pengembangan wilayah dan tata guna tanah dengan instansi dan/unit kerja lain yang terkait;
f. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh;
g. evaluasi dan penyusunan laporan hasil pelaksanaan kegiatan kelompok penelitian, perekayasa dan analis pengembangan model aplikasi data satelit radar.

C. Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Lingkungan dan Cuaca

Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analisis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Lingkungan dan Cuaca mempunyai tugas melaksanakan pengembangan model aplikasi dan data satelit lingkungan dan cuaca.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analisis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Lingkungan Cuaca melakukan :
a. penyiapan kegiatan penelitian, perekayasa dan analisis pengembangan model aplikasi data satelit lingkungan dan cuaca untuk peringatan dini cuaca ekstrim badai tropis, anomali iklim, pergeseran musim, kekeringan, letusan gunung berapi, lingkungan oseanografi dan perikanan;
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan metodologi pengolahan dan analisis data untuk ekstrasi informasi penginderaan jauh tentang cuaca ekstrim, badai tropis, anomali iklim, pergeseran musim, kekeringan, letusan gunung berapi, lingkungan oseanografi dan perikanan;
c. pelaksanaan pengujian dan validasi model-model yang diperoleh dengan dukungan data lapangan dan data sekunder;
d. pelaksanaan operasional aplikasi data inderaja untuk mendapatkan informasi cuaca ekstrim, badai tropis, anomali iklim, pergeseran musim, kekeringan, letusan gunung berapi, dan lingkungan oseanografi;
e. pelaksanaan kerjasama penelitian dan pengembangan operasional pemanfaatan data penginderaan jauh bidang iklim dan cuaca, pertanian, kehutanan, vulkanologi, oseanografi dan perikanan dengan instansi / unit kerja lain yang terkait;
f. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh;
g. evaluasi dan penyusunan laporan hasil pelaksanaan kegiatan Kelompok Peneliti, Perekayasa dan Analis Pengembangan Model Aplikasi Data Satelit Lingkungan dan Cuaca.

LITBANG TEKNOLOGI INFORMASI PERTAMBANGAN


Pengembangan Aplikasi Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi dan Remote Sensing

Merencanakan dan membangun aplikasi pemanfaatan teknologi SIG dan Remote Sensing untuk pemetaan digital, penyediaan informasi spasial dan analisis spasial yang dapat menciptakan kemudahan dalam pengelolaan administrasi dan pengawasan wilayah.

  • Menganalisa, merancang dan membangun sistem aplikasi pengelolaan wilayah dan pemanfaatan lahan.
  • Digitalisasi peta (topografi, geohydrologi, vegetasi, geologi, dan peta tematik terkait lainnya).
  • Mengolah photo udara menjadi peta topografi digital.
  • Pemutakhiran dan koreksi peta digital untuk meningkatkan akurasi objek peta digital dengan memanfaatkan teknologi Remote Sensing.
  • Melakukan tracking dengan mempergunakan perangkat Global Positioning System (GPS) untuk pemutahiran dan peningkatan akurasi data digital yang sudah ada dan menentukan batas wilayah.
  • Melakukan analisis spasial (keruangan), dan
  • Melakukan implementasi dan bimbingan teknis pemakaian sistem.

Kamis, 20 September 2007

Trend Sistem Informasi Industri Perbankan


Trend Produk

Saat ini bank ritel di Indonesia memiliki produk dan layanan:
1.Tabungan
2.Deposito
3.Giro
4.Kartu Debit
5.Kartu Kredit
6.Perdagangan Bank Notes, Valas, dsb (Trade Finance)


Trend Transaksi

Jenis transaski sudah beragam baik menggunakan Kartu Debit, Kartu Kredit yang memanfaatkan jaringan ATM atau Debit Access Transaction umumnya di Cashier yang berlokasi di gerai, outlet tempat-tempat perbelanjaan.

Sebagai gambaran BCA dengan 750 kantor online-nya, dilengkapi 2.100 ATM yang mempunyai fungsionalitas memadai, dapat menghandle dengan baik 8,2 juta nasabahnya.

Dengan jumlah transaksi per hari 2,4 juta. Dari jumlah transksi tersebut rata-rata 821.000 transaski dilakukan melalui ATM, dengan kata lain tingkat pemakaian ATM-nya sebesar 3,9 kali. Sedangkan transaksi lainnya yang sudah lazim dilakukan meliputi:
Mengecek saldo
Fasilitas Pembayaran: Pemindahbukuan dan Penarikan Tunai
Fasilitas untuk menerima Pembayaran (speed collect)
Pembukaan dan pengecekan L/C

Layanan On Line Banking

Seperti ungkapan futurolog teknologi Nicholas Negroponte; bahwa dunia makin lama makin digital. Hal ini ditengarai oleh pesatnya perkembangan transaksi bisnis dan kegiatan non-bisnis yang makin beralih ke pemanfaatan komputer on-line.

Dipicu oleh perkembangan Internet, makin meningkatnya kemampuan hardware dan software dengan kecepatan tinggi dan penyebaran komputer, makin menyadarkan nasabah bank akan berbagai kemudahan yang didapatkan dengan ketersediaan layanan On-line banking.

Saat ini standar layanan ritel banking kelas dunia seperti Chase Manhattan Bank, Bank Of America (BOA) bagi nasabahnya bukan saja menyediakan transakasi real-time, namun banyak lagi produk layanan berbasis on-line seperti:

Packet S/W (Windows) gratis dan tak terbatas sebagai antisipasi memenangkan persaingan teller-less.
Packet software keuangan (Quicken, MoneyOne, BankNow)
Packet Entreprise Resourches Planning (ERP software) yang tentunya sangat dibutuhkan dalam mengelola bisnisnya.


Kesemua software bantuan tadi dapat diakses, berkat tersedianya portal khusus yang dimiliki oleh setiap Bank.


Ketersediaan Teknologi dan Dampaknya

Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika mengarah ke konvergensi dan dipicu oleh ketatnya kompetisi, melahirkan berbagai inovasi dan lompatan teknologi Telematika.

Paradigma diatas sangat mempengaruhi pola dan strategi bisnis, tidak terkecuali industri perbankan. Tuntutan keragaman, kemudahan, kecepatan dan harga jasa yang sangat murah semakin cepat mengemuka.

Bagi sektor perbankan yang sangat mengutamakan unsur kepercayaan dan efisiensi serta layanan berkualitas, perlu menata ulang bisnisnya dengan mencermati ketersediaan inovasi teknologi serta dampaknya bagi kelangsungan dan pertumbuhan bisnisnya.

Berikut diuraikan teknologi dan dampaknya bagi perbankan

A. Internet


Merupakan jaringan media informasi global untuk umum berkecepatan tinggi, yang menghubungkan setiap PC dengan PC lain melalui modem.

Manajemen operasinya diatur melalui Penyedia Jasa Internet (ISP) yang terhubung dengan International Internet Gateway, sehingga setiap individu dengan PC yang dilengkapi modem dapat berkomunikasi, bertukar informasi atau hanya sebatas mencari informasi keseluruh belahan dunia.

B. Intranet

Jaringan komunikasi intuk keperluan internal, yang mampu membuat sesama karyawan dapat bertukar informasi dan bertukar pengetahuan ataupun media penyampaian informasi kebijakan perusahaan pengganti majalah, bulletin di internal perusahaannya (private network).

C. Extranet

Jaringan komunikasi yang dibangun dari saru perusahaan ke perusahaan lainnya untuk saling bertukar informasi, bertransaski dari dan ke supllier, pelanggan dan pelaku bisnis lainnya.

D. World Wide Web (www)

Entitas yang paling cepat tumbuh dalam fasilitas Internet, yang menyediakan fasilitas dan kemudahan dalam membuka atau mengirim informasi melalui saluran/ links “hypertext”.

Dengan entitas ini memudahkan setiap komputer yang terhubung ke Web secara cepat mendapat akses informasi umum dari setiap komputer lainnya di Internet, walaupun jumlah informasinya banyak atau dari tempat yang jauh.

E. e- commerce

Merupakan aplikasi perdagangan yang memanfaatkan fasilitas Internet, yang menjadikan setiap individu/ perusahaan dapat secara langsung tersambung secara digital ke perusahaan/individu lainnya untuk melakakukan transaksi bisnis.

Pemanfaatannya saat ini dapat dikategorikan dalam:

1. Business to Business

2. Business to Customers

Agar keduabelah pihak dapat bertransaksi secara langsung, terlebih dahulu harus dibangun 2 sistem yang terintegrasi:

1. Interactive order entry and processing


Menjamin tersedianya fasilitas bertransaksi mulai, Informasi produk dan specifikasinya (e-marketplace), Pemesanan (Placing Order), Order Processing sampai pemenuhan Order (e-fulfillment)

2. On-line payment

Fasilitas internet yang memungkinkan pembayaran dilakukan secara on-line antara pembeli ke Bank atau Credit Card, setelah proses order terpenuhi persyaratannya (e-fulfillment).

Fasilitas ini menggantikan proses dagang konvensional seperti : pesan lewat Fax, e-mail, pembayaran dengan L/C sampai monitoring kelengkapan dokumennya.

F. e- retail

Forrester Research, November 2000 mengatakan, penjualan ritel melalui internet akan mencapai USD 92 juta pada 2001. Hal ini membuktikan jalur internet telah memantapkan diri sebagai perantara penjualan dengan pertumbuhan tercepat.

Umumnya kegiatan e-retail meliputi:

a. Pengembangan model bisnis

b. Disain situs WEB

c. Pengembangan dan manajemen kontent

d. Kemitraan dan aliansi

e. Akusisi pelanggan

f. Desain rantai persediaan

g. Model pemenuhan pelanggan (e-fulfillment)

h. Rencana skalabilitas

i. Integrasi dan eksekusi balik layar (back end)

j. Cara mempertahankan pelanggan

k. Ekonomi jangka panjang

Beberapa hal perbedaan e-retail dengan retail konvensional :
Kecepatan menanggapi: Lebih cepat menerima dan memproses pesanan.
Akses pelanggan terhadap informasi: Semakin ekstensif dan selalu up-to-date
Area jual beli yang selalu berubah: pperkenalkan produk baru berdasarkan permintaan konsumen, bukan siklus perkembangan produk
Kemantapan eksekusi: selain kesediaan produk dan kemudahan pembayaran, konsumen juga menuntut kecepatan pengiriman produk.

Ada 5 (lima) kunci pokok untuk mencapai sinkronisasi supply chain, yaitu:
Kesempurnaan operasional: Perencanaan pengantaran dan menerapkan konsekuensi perubahan atas upaya mengimplementasi kerangak peningkatan kinerja.
Terobosan dengan memanfaatkan web, untuk pengurangan berlipat ganda biaya dari tiap proses.
Menciptakan kerjasama baru
Mengolola kompleksitas dalam waktu seketika
Mengoptimalisasi hal-hal tak terduga

Tercapainya kelima kekuatan diatas akan sangat membantu dalam mengimplementasikan strategi rantai persediaan, antara lain menyegmentasi berdasarkan kebutuhan pelanggan dan merencanakan sesuai kondisi pasar serta menyesuaikan jaringan logistik agar mencapai kesempurnaan e-retailing.

G. e- government

Sistem informasi pemerintahan yang berbasis web dan internet protocol untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada warganya secara cepat dan murah. Contoh aplikasinya meliputi : KTP, Pajak, Fiskal dan SIM on-line.

H. e- resourches

Suatu bentuk Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Pendapatan Bagi Hasil Eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) yang saat ini masih diimplementasikan dibidang kelautan, dimana Pemerintah selaku pemegang hak pengelolaan membuat situs Internet tentang seluruh kandungan kekayaan alam, kebijakan ekploitasi, pola bagi hasil dan tatacara pembayarannya.

Pendapatan bagi hasil dengan investor yang mengeksploitasi SDA tersebut dikelola secara on-line ke Bank.

I. LAN –sharing

Merupakan teknologi peng-optimalasasian jaringan sehingga dapat digunakan bersama-sama baik dalam Bank serempak dengan LAN Nasabah, dengan pembatasan-pembatasan penggunaan fungsi, akses datanya dan menjamin keamanan data base masing-masing pengguna.

J. Portal

Pintu gerbang bagi pengguna Internet, sehingga memungkinkan untuk pencarian, bertukar informasi, memperoleh informasi tertentu secara up to date hingga melaksanakan transasksi berbasis web (e-commerce, dsb)

Kesepuluh inovasi teknologi telematika di atas merupakan satu kesatuan yang saling terintegrasi dan berdampak langsung terhadap pola bisnis dan persaingan.

Perusahaan-perusahaan yang adaptif dalam memanfaatkan kesepuluh teknologi di atas bukan hanya mencapai efisiensi usaha, namun juga mendapatkan banyak manfaat dalam menata ulang usaha dan menyusun skenario pertumbuhannya, sampai dimanfaatkan sebagai alat strategis untuk membangun berbagai keunggulan dalam memenangkan persaingan yang cenderung semakin terbuka dan meng-global.

Tabel di bawah menunjukkan bagaimana kerangka rumusan solusi yang langsung berpengaruh terhadap pola bisnis dan implementasi solusi bagi perusahaan.

Rabu, 19 September 2007

SIMKEUBANK UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


Sistem Informasi Keuangan Bank Universitas Islam Indonesia

Simkeubank adalah standar sistem dan prosedur yang diberlakukan di Universitas Islam Indonesia terkait dengan Sistem Informasi Teknologi yang digunakan dalam kegiatan operasional Universitas Islam Indonesia, dalam buku Simkeubank ini dimuat tentang mekanisme/prosedur pelaksanaan kinerja pada masing - masing unit kerja terkait di lingkungan Universitas Islam Indonesia , antara lain meliputi :

» Prinsip - prinsip
» Prosedur
» Flow Chart
» Formulir
» SK yang mengatur
» Bagan Alur Prosedur

Dengan adanya simkeubank ini, memudahkan masing - masing unit kerja dalam melaksanakan tugasnya dan diharapkan tiap pelaksanaan/proses kegiatan diketahui/diotorisasi oleh pejabat berwenang yang ada. Bagi pihak Internal, sangat membantu sekali pada kelancaran dan ketertiban kerja, serta memudahkan pihak eksternal yang mempunyai kepentingan tertentu yang terkait dengan standardisasi sistem dan prosedur yang diterapkan di Universitas Islam Indonesia untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan di Universitas Islam Indonesia.

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit


Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit

Ekonomi dunia pada dua ratus tahun yang lalu masih bersifat agraris, ciri dari ekonomi agraris adalah tanah merupakan faktor ekonomi yang paling dominan. Era agraris ini berakhir dengan ditemukannya mesin uap yang menyebabkan terjadinya revolusi industri. Kembali dunia memasuki era baru yaitu era industri, yang menjadi ciri dari era industri ini adalah modal sebagai faktor ekonomi yang paling dominan. Pada akhir abad yang lalu kembali dunia memasuki era yang baru yang biasa disebut era informasi, disini faktor ekonomi yang paling dominan berbasis pada pengetahuan dan berfokus pada informasi, dengan menguasai informasi maka organisasi akan bertahan dan berkembang di era ini.

Sistem Informasi Manajemen merupakan prosedur pemrosesan data berdasarkan teknologi informasi dan diintegrasikan dengan prosedur manual dan prosedur yang lain untuk menghasilkan informasi yang tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan manajemen.

Sistem Informasi Manajemen saat ini merupakan sumber daya utama, yang mempunyai nilai strategis dan mempunyai peranan yang sangat penting sebagai daya saing serta kompetensi utama sebuah organisasi dalam menyongsong era Informasi ini.

Di bidang kesehatan terutama Rumah Sakit sangat membutuhan Sistem Informasi Manajemen untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat untuk menyongsong ‘Indonesia Sehat 2010’.




Sistem Informasi Perhitungan Statistik Kelautan Perikanan


STATISTIK KELAUTAN DAN PERIKANAN

Dalam menyebarluaskan data statistik kelautan dan perikanan, maka sejak tahun 2006, PUSDATIN menerbitkan buku “STATISTIK KELAUTAN DAN PERIKANAN” yang diterbitkan setiap tahun. Selain dalam bentuk hardcopy (buku), data tersebut juga dapat diperoleh dalam bentuk softcopy yang dapat didownload melalui situs ini. Publikasi ini menyajikan statistik kelautan dan perikanan yang meliputi perikanan tangkap; perikanan budidaya; pengolahan dan pemasaran hasil perikanan; kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil; pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan; SDM kelautan dan perikanan; riset kelautan dan perikanan; statistik perikanan dunia; dan statistik lainnya. Seluruh data yang disajikan dalam buku Statistik Kelautan dan Perikanan bersumber dari produk administrasi dari setiap unit kerja pada Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal dan Badan, juga berasal dari instansi lain terkait dengan kelautan dan perikanan yaitu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan serta intansi terkait lainnya.

Sistem Informasi Perhitungan Statistik (SIMPATIK) merupakan perangkat lunak berbasis web yang bertugas dalam menginventarisir perhitungan yang berhubungan dengan data kelautan dan perikanan. Hal tersebut dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang telah ada dan tersebar di seluruh unit kerja lingkup DKP, serta menyusun data-data baru yang diperlukan secara bersama-sama dengan unit kerja lainnya baik intern DKP termasuk Dinas Propinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi kelautan dan perikanan, maupun dengan lembaga-lembaga lainnya baik lembaga pemerintah maupun swasta dan mitra kerja lainnya.

Sistem Informasi Kabupaten Kutai Kertanegara


LATAR BELAKANG

“ Era Informasi- informasi Data” yang cepat, murah, transparan dan akurat dengan membentuk kantor pelayanan Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Satu Atap (SIMPTAP) yang diresmikan oleh Bapak Gubernur Kalimantan Timur Drs. H. Suwarna AF, pada tanggal 19 Agustus 2000.

Dalam kurun waktu yang singkat kurang lebih1 tahun SIMPTAP telah membuktikan kinerjanya dengan menghasilkan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat Kutai Timur dan turut andil dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pemerintah kabupaten Kutai Timur itu sendiri. Hasil yang menggembirakan tersebut menjadi titik tolak bagi pemerintah kabupaten Kutai Timur untuk lebih megembangkan Sistim Informasi yang sudah ada tersebut (SIMPTAP) dengan Sistem Informasi-informasi lainnya.

Sebagai embrio SIMPTAP kemudian dikembangkan menjadi badan SIMPEKAB yang peresmiannya dilakukan oleh wakil gubernur Kalimantan Timur Bapak Drs.H. Chaidir Hafiedz pada tanggal 6 Agustus 2001 di Sangata yang disaksikan juga oleh Dirut PT. POS INDONESIA dan Rektor ITB.
Dibentuknya Badan SIMPEKAB merupakan upaya pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk mendukung program-program pembangunan serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja pemerintah kabupaten Kutai Timur. Badan ini bertugas menyediakan informasi dan data yang akurat dan cepat serta memberikan pelayanan prima bagi kepentingan masyarakat umum sebagai pemakai jasa tersebut. disamping itu badan ini juga berfungsi sebagai badan yang mempromosikan potensi-potensi daerah yang tujuannya adalah untuk menarik atau memgharapkan para investor ikut berpartisipasi dalam pembangunan di kabupaten Kutai Timur, ini tentunya akan bermuara pada kesejehteraan masyarakat wilayah ini.

Lalu apa saja Sistem Informasi Manajemen (SIM) lainnya tersebut?
Sistem Informasi Manajemen lainnya adalah :
1. Sistem Informasi Manajemen Geografis (SIMGEO)
2. Sistem Informasi Manajemen Kepariwisataan (SIMPAR)
3. Sistem Informasi Manajemen Agribisnis/Agroindustri (SIMAGRI)
4. Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG)
5. Sistem Informasi Manajemen Keuangan (SIMKEU)
6. Sistem Informasi Manajemen Perlengkapan Daerah (SIMPERDA)
7. Sistem Informasi Manajemen Ststistik (SIMSTA)
8. Sistem Informasi Manajemen Penanaman Modal Daerah (SIMPMD)
9. Sistem Informasi Manajemen Lingkungan Daerah (SIMLIDA)
10. Sistem Informasi Manajemen Tenaga Kerja (SIMNAKER)
11. Web Site (www.kutaitimur.go.id)

Munculnya SIM lainnya ini seiring dengan kemajuan teknologi khususnya teknologi informasi, seperti Sistem Komputerisasi di semua Bidang dan jenis pekerjaan yang merupakan suatu tuntutan yang mau tidak mau sudah harus dilakukan secepatnya untuk dapat memperoleh data yangcepat dan akurat sehingga pengambilan keputusan data dilaksanakan dengan benar dan tertib.
Sebagai contoh pentingnya pengolahan informasi dan penyajian data yang akurat dan cepat pada pemerintah kabupaten dalam menentukan suatu peruntukan kawasan, penataan kota (daerah) untuk fasilitas pebangunan perkantoran, perumahan, hotel, pusat perniagaan, kawasan industri/pabrik, pertanian, batas wilayah dan fasilitas umum lainnya yang merupakan asset pemerintah. Bagaimana pentingnya arti suatu data yang akurat bagi pemerintah kabupaten adalah masalah informasi dan nilai dari asset tersebut, terutama bagi pemohon pengguna lahan sesuai dengan rincian peruntukan dengan tata kota yang telah ditentukan yang bersumber dari data ukur bidang tanah serta peta yang akurat, dimana akan berdampak kepastian perhitungan pada kepastian perhitungan nilai dan biaya pelaksanaan dilapangan seperti pembangunan fasilitas tersebut diatas, sehingga dapat dihindari pemborosan serta permasalahan dikemudian hari.


GAMBARAN UMUM

1. Dasar Hukum
PP No. 47 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Nunukan, kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang
PP No.25 tahun 2000 tentang Kewenangan pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi sebagai Daerah Otonom
Surat Keputusan Bupati Kutai Timur No. 188.45/HK-164/VIII/2000 tanggal 1 Agustus 2000 tentang pembentukan Organisasi dan Tata kerja SIMPTAP Kabupaten Kutai Timur.


2. Kedudukan, Tugas dan Fungs
i
Badan SIMPEKAB berkedudukan sebagai unsur staf, berada dibawah dan bertanggung jawabkepada Bupati melalui Sekertaris Daerah
Tugas Badan SIMPEKAB
menyelenggarakan urusan rumah tangga daerah di bidang Informasi Manajemen Pemerintah Kabupaten

3. Fungsi Badan SIMPEKAB
Penyiapan, pengembangan penyusunan data dan informasi yang memajukan pemerintah kabupaten
Pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintah kabupaten
Pengkoordinasian atau mengadakan penelitian penelitian untuk kepentingan penyajian Sistem Informasi Manajemen pemerintah kabupaten dengan satuan organisasi lain dalam lingkungan pemerintah kabupaten
Penyebar luasan data dengan informasi untuk kepentingan pembangunan daerah



VISI, MISI, FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN DAN FAKTOR PENGHAMBAT

VISI

Mewujudkan Sistem Informasi Manajemen Pemerintah kabupaten KutaiTimur yang profesional dalam rangka mendukung program-program pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kutai Timur.

MISI
Memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah Kabupaten Kutai Timur yang berbasis pada industri agribisnis melalui pengembangan pelayanan informasi manajemen yang dilakukan secara terbuka.
Menyajikan informasi yang aktual tentang kondisi kepegawaian, keuangan, perlengkapan daerah, ketenaga kerjaan, statistik, pariwisata, agrobisnis/industri, lingkungan, geografi, penanaman modal.
Memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dalam penyelesaian perijinan, sertifikat dan kartu pengenal lainnya yang merupakan kebutuhan masyarakat

Sistem Informasi Manajemen Perencanaan Pembangunan Nasional


Sistem Informasi Manajemen Perencanaan Pembangunan Nasional

Sistem informasi telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan terbukti sangat berperan dalam kegiatan perekonomian dan strategi penyelenggaraan pembangunan. Keberadaan sistem informasi mendukung kinerja peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi pemerintah dan dunia usaha, serta mendorong pewujudan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sistem informasi yang dibutuhkan, dimanfaatkan, dan dikembangkan bagi keperluan pembangunan daerah adalah sistem informasi yang terutama diarahkan untuk menunjang perencanaan pembangunan daerah. Hal ini perlu diingat karena telah terjadi perubahan paradigma menuju desentralisasi di berbagai aspek pembangunan.

Salah satu paradigma baru itu adalah perihal perencanaan pembangunan daerah. Mulai tahun 2001, seiring dengan pemberlakuan UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999, maka perencanaan pembangunan daerah telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Dan dengan terbitnya UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang bertujuan untuk mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan; menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antardaerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah; menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, kiat di balik desentralisasi adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat, partisipasi dalam perencanaan pembangunan, dan pencapaian akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi.

Telah banyak dikembangkan sistem informasi yang berbasis data perencanaan pembangunan, yang beroperasi baik di pusat maupun di daerah. Akan tetapi, harus diakui bahwa pada umumnya sistem informasi yang telah dikembangkan itu hanya menyangkut aspek tertentu dalam perencanaan pembangunan. Misalnya, Sistem Informasi Manajemen Departemen Dalam Negeri (Simdagri) dan SIM Daerah (Simda), yang penerapan pengelolaannya di daerah dilakukan oleh Kantor Pengolahan Data Elektronik (KPDE) di daerah. Contoh lain adalah yang berkaitan dengan aspek ruang, yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG), yang dikembangkan melalui proyek berbantuan luar negeri Land Resources Evaluation and Planning (LREP) dan Marine Resources Evaluation and Planning (MREP); atau sistem informasi yang menyangkut aspek lingkungan, seperti Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Daerah (NKLD) serta Neraca Sumber Daya Alam dan Spasial Daerah (NSASD) di setiap daerah.

Dengan adanya Sistem Informasi dan Manajemen Perencanaan Pembangunan Nasional (Simrenas) ini, diharapkan dapat menata berbagai aspek data perencanaan pembangunan secara terintegrasi dan komprehensif, baik dalam hal struktur, jenis maupun format data untuk perencanaan pembangunan.

Alat Pelacak Posisi Kendaraan


Alat pelacak posisi kendaraan

Alat pelacak/pemantau posisi saat ini aplikasinya makin berkembang dengan adanya satelit navigasi Navstar. Perangkat penerima satelit dari satelit Navstar ini umumnya memakai GPS (Global Positioning System) sebagai sumber datanya. Dengan menggunakan perangkat ini, kita bisa tahu posisi kita dimanapun dipermukaan bumi, yang direpresentasikan dalam bujur dan lintang. Alat pemantau posisi memanfaatkan teknologi GPS untuk keperluan mengenal tempat/posisi dari benda yang akan dipantau posisinya. Selanjutnya perangkat semacam ini biasanya memanfaatkan GSM untuk mengirimkan data ke pusat pemantauan. Pengiriman data ke pusat pemantauan diatur sesuai kebutuhan, dengan menggunakan SMS (short message service) ataupun gprs.
Di pusat pemantauan data dilapiskan diatas peta, baik berupa foto satelit ataupun peta garis, sehingga kita bisa mengenali area yang dimaksudkan terhadap area yang dikenal. Selain itu di pusat pemantauan dilengkapi pula dengan komputer, perangkat gsm, perangkat lunak pemetaan akan memantau posisi kendaraan dari komputer yang menerima data posisi kendaraan melalui sms ataupun gprs.
Terdapat dua jenis alat pemantau kendaraan yang beredar dipasar saat ini, yaitu pemantau langsung ataupun pemantau tunda. Pemantau langsung adalah seperti yang terdapat pada bagian awal dokumen ini, sementara pemantau tunda, dengan merekam data posisi di kendaraan, dan data diambil saat kendaraan sampai di kantor lagi.

Aplikasi Alat Pelacak Posisi Kendaraan

Alat pemantau posisi kendaraan ini membantu para manajer armada menjadi lebih mudah dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan armada mereka, selain itu bisa pula diketahui hal-hal yang behubungan dengan prestasi seorang pengemudi, biaya perawatan setiap kendaraan setiap kilometer, ataupun konsumsi bahan bakar setiap kendaraan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menghindari curi pakai kendaraan, ataupun penggunaan jalur/trayek yang tidak seharusnya, yaitu jalur yang dilarang oleh manajer armada karena berbagai alasan.
Di beberapa negara, keberadaan alat pemantau kendaraan ini berguna untuk mengurangi biaya premi asuransi, hal ini disebabkan dengan alat ini bisa mengurangi resiko kehilangan kendaraan karena pencurian, sehingga resiko perusahaan asuransi juga berkurang, dikembalikan ke pelanggan dalam bentuk pengurangan premi.
Aplikasi pada perusahaan taksi digunakan untuk mempercepat layanan penjemputan oleh armada taksi, yaitu dengan mengetahui alamat pelanggan, dan posisi taksi yang kosong, maka pusat layanan armada taksi tersebut bisa langsung menentukan taksi terdekat untuk menjemput peanggan mereka.
Aplikasi dilogistik digunakan untuk melakukan efisiensi dalam rute ataupun percepatan penurunan/pengangkutan muatan dengan adanya fasilitas geofencing. Dengan fasilitas ini maka supervisor bisa mengetahui lebih awal adanya armada yang akan masuk gudang, sehingga bisa mempersiapkan pelaksanaan bongkar muat lebih dini.




SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.
Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.


Sejarah pengembangan GIS

35000 tahun yang lalu, di dinding gua Lascaux, Perancis, para pemburu Cro-Magnon menggambar hewan mangsa mereka, juga garis yang dipercaya sebagai rute migrasi hewan-hewan tersebut. Catatan awal ini sejalan dengan dua elemen struktur pada sistem informasi gegrafis modern sekarang ini, arsip grafis yang terhubung ke database atribut.
Pada tahun 1700-an teknik survey modern untuk pemetaan topografis diterapkan, termasuk juga versi awal pemetaan tematis, misalnya untuk keilmuan atau data sensus.
Awal abad ke-20 memperlihatkan pengembangan "litografi foto" dimana peta dipisahkan menjadi beberapa lapisan (layer). Perkembangan perangkat keras komputer yang dipacu oleh penelitian senjata nuklir membawa aplikasi pemetaan menjadi multifungsi pada awal tahun 1960-an.
Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS - SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI - Canadian land Inventory) - sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

Kegunaan GPS


Kegunaan GPS


Militer
GPS digunakan untuk keperluan perang, seperti menuntun arah bom, atau mengetahui posisi pasukan berada. Dengan cara ini maka kita bisa mengetahui mana teman mana lawan untuk menghindari salah target, ataupun menetukan pergerakan pasukan.

Navigasi
GPS banyak juga digunakan sebagai alat navigasi seperti kompas. Beberapa jenis kendaraan telah dilengkapi dengan GPS untuk alat bantu nivigasi, dengan menambahkan peta, maka bisa digunakan untuk memandu pengendara, sehingga pengendara bisa mengetahui jalur mana yang sebaiknya dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sistem Informasi Geografis
Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis, GPS sering juga diikutsertakan dalam pembuatan peta, seperti mengukur jarak perbatasan, ataupun sebagai referensi pengukuran.

Pelacak kendaraan
Kegunaan lain GPS adalah sebagai Pelacak kendaraan, dengan bamtuan GPS pemilik kendaraan/pengelola armada bisa mengetahui ada dimana saja kendaraannya/aset bergeraknya berada saat ini.

Pemantau gempa
Bahkan saat ini, GPS dengan ketelitian tinggi bisa digunakan untuk memantau pergerakan tanah, yang ordenya hanya mm dalam setahun. Pemantauan pergerakan tanah berguna untuk memperkirakan terjadinya gempa, baik pergerakan vulkanik ataupun tektonik

Global Positioning System


GLOBAL POSITIONING SYSTEM

Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah satelit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima diseluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.
Nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (Navigational Satellite Timing and Ranging Global Positioning System; ada juga yang mengartikan "Navigation System Using Timing and Ranging.") Dari perbedaan singkatan itu, orang lebih mengenal cukup dengan nama GPS.
GPS mulai diaktifkan untuk umum 17 Juli 1995.


Bagaimana GPS mengetahui posisinya

Untuk mengetahui posisi dari GPS, diperlukan minimal 3 satelit. Pengukuran posisi GPS didasarkan oleh sistem pengukuran matematika yang disebut dengan Triliterasi. Yaitu pengukuran suatu titik dengan bantuan 3 titik acu. Misalnya anda berada di suatu kota A (disini kota kita anggap sebagai titik), tetapi anda tidak mengetahui dimana anda berada. Untuk mengetahui keberadaan anda, anda bertanya kepada seseorang, dan orang tersebut menjawab bahwa anda 2 km dari kota B. Jawaban ini tidak memuaskan anda karena anda tidak tahu apakah anda di sebelah selatan, utara, barat, atau timur kota B. Kemudian anda bertanya kepada orang ke-2 dan mendapat jawaban bahwa anda berada 5 km dari kota C. Dengan jawaban ini anda sudah dapat membayangkan dimana posisi anda, hanya ada kemungkinan 2 titik berbeda yang berpotongan antara lingkaran dengan radius kota A dengan kota B dan lingkaran dengan radius kota A dengan kota C. Untuk lebih memperjelas lagi anda mumerlukan orang ke-3, misalnya anda berada di 1 km dari kota D. Dengan demikian anda mendapatkan perpotongan antara lingkaran dengan radius jarak kota A ke kota B, lingkaran antara kota A dan kota C, dan lingkaran antara kota A dan kota D. Dalam GPS kota A adalah alat penerima GPS, kota B, C, dan D adalah Satelit.













Jumat, 14 September 2007

DVD dan Perdebatannya


DVD : Format dan Perdebatannya


Saya ingin menjelaskan pengertian DVD -dan +, juga RAM. Sebelumnya saya jelaskan dulu bahwa kepanjangan dari DVD adalah Digital Versatile Disc, artinya versatile adalah "serba guna". Jadi wajar saja kalau DVD memiliki berbagai format yang hingga kini masih diperdebatkan. Mengapa demikian? Karena semenjak ditemukannya format DVD, para ahli mulai memikirkan bagaimana cara membuat alat perekam yang dapat digunakan oleh semua orang seperti layaknya CD-Writer yang sudah menjamur dimana-mana. DVD yang biasa kita temui sehari-hari seperti DVD-Video dan DVD-ROM semuanya itu dibuat dengan proses cetakan pabrik. Data atau informasinya sudah masuk seketika saat piringan DVD dicetak. Proses seperti itu membutuhkan alat khusus yang harganya sangat mahal jika digunakan untuk keperluan pribadi. Alat pencetak DVD bisa menjadi sangat murah, jika Anda memang sengaja bergerak dibidang manufaktur DVD yang tiap harinya mencetak jutaan piringan DVD.

Itulah sebabnya diciptakan alat perekam DVD yang dapat dipakai untuk keperluan pribadi (personal). Saat pertama kali alat ini hendak diciptakan, para perusahaan besar yang tergabung dalam DVD Forum tidak menemui kata sepakat mengenai peraturan atau ketentuan seputar alat perekam DVD dan medianya.

Seperti yang kita ketahui DVD-Video memiliki 9 wilayah kode regional. Yaitu;

Regional 0 = semua wilayah dimuka bumi ini
Regional 1 = Amerika Serikat dan Canada
Regional 2 = Jepang, Eropa, Afrika Selatan dan Timur Tengah (termasuk Mesir)
Regional 3 = Asia Tenggara dan Asia Timur (kecuali Jepang)
Regional 4 = Australia, Selandia Baru, Kep. Pasifik, Amerika Tengah, Meksiko, Amerika Selatan, dan Kep. Karibia
Regional 5 = Eropa Timur (bekas negara-negara Uni Soviet), Afrika, Korea Selatan dan Mongolia
Regional 6 = China
Regional 7 = belum terpakai
Regional 8 = untuk penayangan DVD pada pesawat terbang, pelayaran dan sebagainya

Anda tidak bisa membeli film Regional 3 untuk diputar pada player Regional 1. Hanya film dengan kode Regional 0 saja yang bisa diputar pada semua player. Karena Regional 0 dianggap sebagai Master Edit. Selain itu DVD-Video juga memiliki proteksi MacroVision. Kesimpulannya, Anda tidak bisa merekam DVD-Video.

Dulu, Video LaserDisc dibajak dengan cara menghubungkan Video-Out dan Audio-Out dari Player ke alat perekam. Setelah baru disebarluaskan hasil kopian itu baik dalam bentuk VHS atau VCD. Kini cara itu tidak bisa lagi dilakukan karena ada proteksi MacroVision.

Tidak hanya itu, meski Anda mencoba mengkopi file VOB (Video Object) DVD-Video secara digital dengan bantuan komputer sekalipun cara itu tidak berhasil. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Terlalu rumit untuk dijelaskan. (^_^)v

Untunglah sekarang sudah banyak jagoan-jagoan penjebol kode. Di Internet dan di toko-toko software bajakan sudah banyak tersedia penjebol kode proteksi MacroVision untuk DVD Regional 1 s/d 8. Kalau tidak mau repot cukup beli DVD Regional 0 karena bisa diputar disemua player dan tidak memiliki proteksi MacroVision. Tapi kalau Anda seorang yang baik hati dan penuh pengertian terhadap hasil karya seseorang, tentu Anda tidak akan melakukannya.

Peraturan Regional ini pun dulunya mengundang banyak perdebatan. Dan perdebatan ini terjadi pula pada alat perekam DVD. Terdapat 3 jenis DVD-Blank, yaitu DVDRAM, DVD+(plus) dan DVD-(minus).

Ceritanya begini. DVD Forum pertama kali menciptakan format DVDRAM. Format ini memiliki kapasitas yang sama dengan DVD-Video dan DVD-ROM. Tapi ada perbedaan fisiknya, yaitu DVDRAM berbentuk seperti disket 3.5" yang memiliki cartridge untuk melindungi piringannya. Diameter DVDRAM tetap seperti disket 5.25" tapi bentuknya persis seperti disket 3.5" raksasa.

Bentuknya ini dinilai tidak praktis dan menimbulkan kekecewaan diantara anggota DVD Forum. Perusahaan HP, Sony dan Philips yang merupakan anggota DVD Forum akhirnya membentuk kelompok tersendiri dengan nama DVD Aliance. Mereka menciptakan DVD+ hanya 3 bulan setelah DVDRAM diciptakan.

Hal ini menimbulkan kekacauan, karena alat perekamnya berbeda lagi. Banyak perusahan lain yang kecewa. Tapi DVD+ ini menawarkan beberapa kelebihan yang tidak ada pada DVDRAM, seperti Lossless Linking dan CAV/CLV writing. Losless Linking sama fungsinya dengan Buffer Protection Under-run pada alat perekam CD. Yaitu dengan menyediakan fasilitas pencatatan posisi terakhir lensa jika kiriman atau aliran data yang ingin direkam tiba-tiba terhenti. Saat aliran data sudah datang kembali lensa akan segera bekerja meneruskan penulisan di sektor tempat terakhir kali berhenti.

Dulu alat perekam CD juga tidak memiliki fasilitas ini, sehingga banyak dijumpai kasus kegagalan dalam proses burning CD.

Fasilitas lainnya adalah CAV dan CLV. CAV singkatan dari Constant Angular Velocity. Artinya kecepatan pembakaran konstan dan meningkat terus hingga mencapai titik maksimal. Misalnya Anda menetapkan kecepatan pembakaran DVD 8x, maka saat pertama kali proses dilaksanakan, kecepatan awalnya mungkin cuma sekitar 1x atau 2x, dan baru akan mencapai 8x jika sudah mencapai track paling luar.

Berbeda dengan Constant Linear Velocity. Cara ini akan memberikan kecepatan yang stabil sejak awal kali dijalankan hingga mencapai track paling luar. Jika Anda menetapkan pembakaran DVD pada 8x, maka alat perekam DVD harus memulai benar-benar dari 8x, dan mengakhiri pada 8x. Masalahnya adalah tidak semua alat perekam DVD atau CD mampu memberikan kecepatan stabil seperti ini.

Sementara CAV sangat ideal untuk media DVD atau CD murahan yang kualitasnya belum terjamin untuk dibakar dengan kecepatan tinggi. Alat perekam akan mendeteksi sampai dimana kemampuan media DVD atau VCD itu sehingga jika Anda menetapkan kecepatan 8x padahal hanya mampu sampai 4x, maka yang digunakan sampai akhir adalah 4x. Meski yang tertera dilayar 8x. Hal ini untuk mencegah kegagalan dalam proses pembakaran.

Anda tidak perlu pusing memilihnya, karena setiap alat perekam DVD atau CD akan menentukan secara otomatis. Pokoknya santai saja...

Kembali pada kisahnya, DVD Forum tidak mau tinggal diam. Mereka akhirnya mengeluarkan format DVD- dan mengklaim bahwa format ini adalah format yang paling kompatibel dengan semua DVD-ROM komputer dan DVD Player biasa. Benarkah itu? Silahkan Anda coba sendiri.

Yang pasti saya hanya mau mengingatkan bahwa perdebatan mengenai format DVD masih terus berlanjut. Dan belum usai perdebatan itu, beberapa perusahan malah sudah mulai mencoba membuat media baru sebagai pengganti DVD.

Hehehe... kita lihat saja mana yang menang. Sementara ini jika Anda ingin membeli alat perekam DVD, cukup beli yang mendukung DVD- dan DVD+ saja. Selain harganya lebih murah daripada yang mendukung ketiga-tiganya, DVD-ROM dan DVD Player biasa tidak bisa membaca DVDRAM.


Sumber:www.IlmuKomputer.com
Penulis:Jonet Wicaksana

Hacker and Cracker

Pengertian Hacker dan Cracker

1. Hacker

Hacker adalah sebutan untuk mereka yang memberikan sumbangan yang bermanfaat kepada jaringan komputer, membuat program kecil dan membagikannya dengan orang-orang di Internet. Sebagai contoh : digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri bergerak dalam bidang game dan komputer. Digigumi ini menggunakan teknik teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game. Contohnya, game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun bukan sebagai perusak. Hacker disini artinya, mencari, mempelajari dan mengubah sesuatu untuk keperluan hobi dan pengembangan dengan mengikuti legalitas yang telah ditentukan oleh developer game. Para hacker biasanya melakukan penyusupan-penyusupan dengan maksud memuaskan pengetahuan dan teknik. Rata - rata perusahaan yang bergerak di dunia jaringan global (internet) juga memiliki hacker. Tugasnya yaitu untuk menjaga jaringan dari kemungkinan perusakan pihak luar "cracker", menguji jaringan dari kemungkinan lobang yang menjadi peluang para cracker mengobrak - abrik jaringannya, sebagai contoh : perusahaan asuransi dan auditing "Price Waterhouse". Ia memiliki team hacker yang disebut dengan Tiger Team. Mereka bekerja untuk menguji sistem sekuriti client mereka.

2. Cracker

Cracker adalah sebutan untuk mereka yang masuk ke sistem orang lain dan cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer, secara sengaja melawan keamanan komputer, men-deface (merubah halaman muka web) milik orang lain bahkan hingga men-delete data orang lain, mencuri data dan umumnya melakukan cracking untuk keuntungan sendiri, maksud jahat, atau karena sebab lainnya karena ada tantangan. Beberapa proses pembobolan dilakukan untuk menunjukan kelemahan keamanan sistem.

Hirarki / Tingkatan Hacker

1. Elite

Ciri-ciri : mengerti sistem operasi luar dalam, sanggup mengkonfigurasi & menyambungkan jaringan secara global, melakukan pemrogramman setiap harinya, effisien & trampil, menggunakan pengetahuannya dengan tepat, tidak menghancurkan data-data, dan selalu mengikuti peraturan yang ada. Tingkat Elite ini sering disebut sebagai ‘suhu’.

2. Semi Elite

Ciri-ciri : lebih muda dari golongan elite, mempunyai kemampuan & pengetahuan luas tentang komputer, mengerti tentang sistem operasi (termasuk lubangnya), kemampuan programnya cukup untuk mengubah program eksploit.

3. Developed Kiddie

Ciri-ciri : umurnya masih muda (ABG) & masih sekolah, mereka membaca tentang metoda hacking & caranya di berbagai kesempatan, mencoba berbagai sistem sampai akhirnya berhasil & memproklamirkan kemenangan ke lainnya, umumnya masih menggunakan Grafik User Interface (GUI) & baru belajar basic dari UNIX tanpa mampu menemukan lubang kelemahan baru di sistem operasi.

4. Script Kiddie

Ciri-ciri : seperti developed kiddie dan juga seperti Lamers, mereka hanya mempunyai pengetahuan teknis networking yang sangat minimal, tidak lepas dari GUI, hacking dilakukan menggunakan trojan untuk menakuti & menyusahkan hidup sebagian pengguna Internet.

5. Lamer

Ciri-ciri : tidak mempunyai pengalaman & pengetahuan tapi ingin menjadi hacker sehingga lamer sering disebut sebagai ‘wanna-be’ hacker, penggunaan komputer mereka terutama untuk main game, IRC, tukar menukar software prirate, mencuri kartu kredit, melakukan hacking dengan menggunakan software trojan, nuke & DoS, suka menyombongkan diri melalui IRC channel, dan sebagainya. Karena banyak kekurangannya untuk mencapai elite, dalam perkembangannya mereka hanya akan sampai level developed kiddie atau script kiddie saja.

Cracker tidak mempunyai hirarki khusus karena sifatnya hanya membongkar dan merusak.

Sumber:www.students.ukdw.ac.id


Overclock


MENG – OVERCLOCK VGA CARD

Meningkatkan kinerja kartu grafis agar tampilan gambar semakin ampuh. Meng-overclock kartu (card) VGA lebih gampang dibanding meng-overclock CPU (central processing unit) atau prosesor. Anda tak perlu membuka casing PC untuk melakukannya. Biasanya para vendor VGA menyediakan opsi tweak pada driver VGA atau overclocking tool yang bisa di-download dari situs mereka di internet. Apabila driver kartu VGA PC Anda tidak menyediakan tweak tool dan di situs vendornya tidak ada overclocking tool, masih ada cara lain, yaitu dengan menggunakan software gratisan yang ada di internet. Salah satu software yang bisa dipakai adalah Powerstrip.

LANGKAH 1
Bukalah browser internet Anda dan ketikkan www.entechtaiwan.com, maka akan terbuka halaman web. Carilah bagian Download. Di situ terdapat tiga jenis file Powerstrip 3.30 yang bisa di-download, pilih English Shareware yang ukurannya 648 KB. Setelah itu, tentukan lokasi penyimpanan installer file Powerstrip di hard disk drive Anda. Proses download akan berjalan, dan seselesainya, lakukan instalasi program.

LANGKAH 2
Setelah proses instalasi dan setup selesai, akan muncul ikon Powerstrip pada Windows Taskbar, tepatnya di system tray. Klik kanan ikon tersebut sehingga muncul menu pop-up. Informasi mengenai hardware dapat Anda buka dengan mengeklik [Options]. Lalu bukalah [Display profiles] [Configure], pada boks Display profiles akan terdapat beberapa pengaturan warna, resolusi, dan refresh rate. Aturlah warna dengan mengeklik menu drop-down pada Color Depth, tingkatkan resolusi dengan menggeser slider. Refresh rate monitor bisa pula ditingkatkan dengan mengeklik menu drop-down dan memilih [standard discrete timing], lalu geser slider. Usahakan pengubahan refresh rate tidak melebihi kapasitas maksimal monitor. Setelahnya, klik [Apply] untuk melihat pengubahan, dan klik [OK].

LANGKAH 3
Pada boks Powerstrip, klik [Performance profiles] [Configure], dan akan terbuka boks baru. Di sini terdapat slider Memory clock dan Engine clock. Klik kanan mouse pada tiap-tiap slider maka akan muncul informasi mengenai clock ini. Engine clock adalah prosesor pada kartu grafis, sedangkan memory clock adalah kecepatan yang diberikan memori untuk mendukung kinerja prosesor kartu grafis.

LANGKAH 4
Tingkatkan memory clock terlebih dahulu sebelum Anda mengubah engine clock-nya. Misalnya, geser slider untuk meningkatkan memori sebesar 2 MHz lalu klik [Apply]. Maka akan muncul boks peringatan berupa hitungan waktu selama 10 detik. Tekan [OK] apabila Anda memilih setelan yang baru, atau tetap memakai setelan memory clock default dengan menekan [No]. Apabila memilih [No], maka monitor akan hitam (flicker) selama beberapa detik, dan kembali normal kembali. Boks ini sangat fungsional, karena bila layar mengalami error maka recovery akan berjalan.

LANGKAH 5
Selanjutnya cobalah untuk meningkatkan kecepatan memory clock secara bertahap sebesar 2 MHz, klik [Apply] dan [OK], dan lihatlah perubahan yang terjadi pada layar. Begitu seterusnya. Apabila gambar di layar mengalami pecah dan muncul titik-titik yang menyebabkan gambar desktop tidak mulus, maka turunkan kecepatan memory clock sampai tidak muncul lagi problem ini.

LANGKAH 6
Cobalah untuk meningkatkan kecepatan memori sampai batas tidak lebih dari 20 persen dari posisi memory clock awal. Misalnya saja memori awal 160 MHz, maka tingkatkan hingga batas maksimal 192 MHz. Memang sebaiknya di bawah angka itu, dan jalankan sistem PC selama beberapa hari. Apabila tidak ada masalah berarti, Anda bisa meningkatkan lagi kecepatan memorinya.

LANGKAH 7
Mengubah engine clock sebenarnya tidak meningkatkan performa layar, namun dengan meningkatkannya pula, maka kestabilan kartu grafis bisa dijaga. Ketika kecepatan memory clock ditambah, maka engine clock juga harus ditingkatkan. Cobalah untuk menaikkan sebesar 5 MHz. Lihatlah terlebih dahulu angka imbang antara kecepatan engine clock dengan memory clock. Jangan menaikkan engine clock secara drastis, karena akan memperburuk kinerja kartu grafis.

LANGKAH 8
Klik [Color profile] [Configure] untuk membuka boks pengaturan warna. Anda bisa mengubah sendiri Gamma, Brightness, Contrast, dan Temperature. Selanjutnya klik [Apply] untuk melihat hasilnya, dan klik [OK] untuk mengakhirinya.


LANGKAH 9
Setelah pengaturan selesai semua, lakukan restart PC dan bukalah program benchmark Dacris untuk mengujinya lagi. Anda bisa menguji kecepatan memori, prosesor, hard disk, 2D video, CD/DVD, internet, printer, dan network.

Sumber:www.els.fk.umy.ac.id